Bulan: Agustus 2012

Glosarium Fashion

Posted on

A

Acceptance : Faktor penerimaan, dimana suatu gaya dibeli atau di pakai oleh Jeanny Angorang banyak dan menjadikan gaya tersebut menjadi fashion.

Aksen : Penekanan pada suatu bagian tertentu sebagai titik perhatian atau titik fokus. Bisa dalam bentuk warna, corak, dsb.

Aksesoris : Ornamen tambahan sebagai pelengkap untuk menyempurnakan penampilan atau menciptakkan suatu kesan tertentu pada busana.

A-Line : Suatu siluet atau garis luar pakaian yang menyerupai huruf A. Mengecil di bagian atas dan melebar dibagian bawah.

Animal Print : Motif yang terispirasi dari bentuk binatang, biasanya mengambil dari kulit macan tutul, zebra, jerapah, sapi, buaya atau reptil.

Ankle Strap : Sepetu yang memiliki tali pada pergelangan kaki.

Anting : Perhiasan yang digantungkan atau dipakai pada daun telinga.

Argyle : Corak geometris berbentuk wajik  yang terdiri dari beberapa warna. Berasal dari Skotlandia.

Asimetris : Desain yang sengaja dibuat tidak sama pada kedua sisinya.

ATMB : (Alat Tenun Bukan Mesin) alat tenun yang digerakkan oleh injakan kaki untuk mengatur naik turunnya benang lungsi sehingga benang pakan dapat di sisipkan.

B

Babushka : Penutup kepala yang terbuat dari kain segitiga yang disimpulkan atau diikatkan di dagu.

Baby Pink : Warna pink pastel yang lembut.

Backless : Sebuah baju yang memiliki potongan sangat rendah pada bagian punggung, biasa disebut dengan punggung terbuka.

Baggy Pants : Celana yang potongannya sangat longgar.

Balapak : Kain songket yang berasal dari minangkabau dengan desain benang emas atau perak yang memenuhi hampir seluruh permukaan kain.

Ball Gown : Sebuah gaun pesta formal dengan ciri khas potongan ramping di pinggang dan rok lebar yang panjangnya menyentuh lantai.

Ballerina Flats :  Sepatu yang memiliki sol datar dan tipis dengan bagian depan bulat dan model sepatunya tertutup.

Balloon Sleeves : Lengan yang kaya kerutan, menciptakan efek menggembung mirip balon.

Band Bowtie : Dasi yang bentuknya menyerupai kupu kupu yang biasa dipakai atau dilekatkan pada pita pada bagian bawah kerah kemeja.

Bangle : Gelang yang berbentuk seperti cincin besar yang sifatnya kokoh dan kaku.

Baret : Topi yang bentuknya bundar dan pipih.

Bateau Neck : Garis leher yang tinggi yang melintang dari bahu ke bahu mengikuti lengkungan tulang selangka.

Bath Robe : Jubah seperti handuk yang digunkan sehabis mandi.

Batik : Bahan tekstil/warna hasil pewarnaan secara perintangan. Penggunaan lilin batik sebagai zat/bahan perintang diterapkan dalam proses batik tulis, batik cap.

Batik Cap : Kain batik yang untuk penerapan ragam hiasnya menggunakan cap, yaitu alat terbuat dari tembaga yang dibentuk berdasarkan corak/motif yang dikehendaki.

Batik cap : Kain yang dihias dengan tekstur dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu kurang lebih 2-3 hari.

Batik larangan : Batik yang hanya boleh digunakan oleh keluarga kerajaan dalam acara-acara tertentu. Keberadaan batik ini tertutup karena hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu dalam Keraton. 

Batik lukis : Proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putihatau kain mori.

Batik pagi-sore : Selembar kain batik yang memiliki dua corak berbeda yang memenuhi permukaan kain batik.

Batik Saudagaran : batik yang diproduksi oleh para pengusaha batik, misalnya di daerah Kauman dan Laweyan

Batik Tulis : Kain batik yang penerappan ragam hiasnya di tulis dengan tangan menggunakan canting sebagai alat untuk menorehkan cairan lilin/malam.

Batwing Sleeves : Lengan panjang yang menyerupai lengan kelelawar.

Beige : Warna coklat muda yang lembut namun mengandung unsur kuning keabu-abuan.

Bell Bottom Pants : Celana yang memiliki potongan ramping di bagian paha dan melebar dari lutut ke bawah.

Bell Sleeves : Biasa disebut dengan lengan lonceng yang menyempit di atas dan melebar ke bawah, bentuknya menyerupai lonceng.

Belt Bag : Tas yang berada di sabuk atau menyatu dengan sabuk sehingga praktis digunakkan, biasa digunakkan untuk tempat handphone.

Benang : Helaian tali halus yang di pintal dari serat, dipakai untuyk menjahit atau menenun.

Benang Lusi : Benang pada kain tenun yang arahnya membujur ke arah panjang kain.

Benang Pakan : Benang pada kain tenun yang arahnya melintang searah dengan lebar kain.

Bermuda Short : Celana pendek dengan panjang sampai lutut.

Bertha Collar : Kerah lebar yang menutupi bahu dengan garis leher berbentuk V.

Birkin Bag : Tas rancangan Hermes yang di populerkan oleh Jane birkin pada tahun 1984.

Biru : Salah satu warna primer yang memiliki kesan tenang, dingin, sendu, dan tangguh.

Bishop Sleeves : Lengan panjang yang lebih mengembung pada bagian bawah, dan dikerut pada bagian pergelangan atau di lengkapi oleh manset.

Bleaching : Proses pengilangan warn apada pakaian dengan cara pencelupan.

Blouson : Pakaian atasan yang diberi kerutan di pinggang atau bawah pinggang yang memberikan efek lebih bervolume.

Boater : Topi anyaman yang bagian ata atau puncak dan pinggirannya datar datar, dan dihias dengan sebilah pita di sekelilingnya.

Bolero : Jas pendek sampai ke pinggang.

Bonnet : Topi yang bentuknya menutupi seluruh kepala dengan pinggiran membingkai wajah yang diikatkan dengan pita pada bagian dagu.

Book Bag : Ada juga yang menyebutnya Office Bag. Tas ini biasa di gunakan untuk menaruh atau membawa buku-buku atau berkas-berkas penting biasanya di dalamnya ada tempat-tempat seperti lembaran untuk menyimpan barang bawaan kita agar tidak tercecer dan menyatu dengan barang bawaan yang lain.

Boot Cut : Celana yang melebar dari lutut ke bawah, biasa digunakan dengan sepatu boots.

Boots : Sepatu yang menutupi kaki dengan tinggi yang bervariasi mulai dari yang pendek sebetis hingga paha.

Bow Collar : disebut juga kerah pita. Kerah panjang melingkari leher yang kedua ujungnya diikatkan menjadi pita.

Box bag : Tas berbentu kotak yang memiliki permukaan tebal dan keras.

Bracelet : Perhiasan yang melingkar di pergelangan tangan.

Brogue : Sepatu pria dengan model tali temali dengan tumit datar dan di hiasi dengan lubang-lubang kecil.

Broken white : Warna putih lembut dengan unsur kuning keabu-abuan.

Bucket Bag : Tas dengan dasar bundar dengan tinggi melebihi kelebarannya. Bentuknya menyerupai ember.

Buckle : Kepala ikat pinggang yang menyatukan atau mengikat kedua ujung ikat pinggang. Disebut juga dengan gesper.

Burgundy : Warna merah tua dengan unsur ungu kecoklatan atau disebut dengan merah anggur.

C

Camisole : Atasan pendek tanpa lengan, banyak digunakan sebagai dalaman.

Cap : Topi yang membentuk pas kepala, dilengkapi dengan pelindung wajah dari sinar matahari di atas dahi. Biasa dipakai oleh penunggang kuda.

Cap Sleeves : Lengan pendek dengan panjang 4-10cm dari bahu, hanya menutupi sebagian lengan atas.

Cap Toe : Sepatu dengan ujung depannya diberi jahitan melintang.

Cape : Pakaian atasan yang longgar tanpa lengan yang jatuh dari leher hingga bahu. Panjangnya bervariasi.

Capri Pants : Celana panjang sebetis dengan potongan mengecil ke bawah di lengkapi ddengan belahan di samping celana.

Capuchon atau hood : Ada yang menyebutnya kupluk. Biasa terdapat pada sweater, hoddie, dan jaket.

Cargo Pants : Celana dengan tambahan saku-saku yang menggunakan klep.

Catsuit : Baju terusan yang ketat menempel pada tubuh.

Cecek : Bentuk titik yang dibuat menggunakan canting cecek dan tetap putih.

Chalk Stripe : Atau disebut dengan Pin Stripe. Motif garis-garis putih yang sejajar dan memiliki jarak yang sama.

Chandelier : Anting-anting  panjang yang terbuat dari bebatuan yang di rangkai secara bertingkat.

Chartreuse : Warna hijau mencolok dengan unsur kekuning-kuningan.

Chemise dress : Siluet gau lurus dari bahu ke bawah, diciptakan oleh Coco Chanel dan dihidupkan kembali dengan nama sackdress oleh Balenciaga.

Cheongsam : Gaun terusan khas Cina yang ketat di tubuh dan memiliki leher tinggi juga belahan di samping.

Chic : Sesuatu yang penuh gaya, serasi, dan elegan.

Choker : Kalung yang pas melingkar di dasar leher dengan panjang 35-40cm.

Cigarette Pants : Celana agak ketat yang lurus ramping hingga ke bawah.

Cincin : Perhiasan yang melingkar di jari sebagai pemanis.

Clam Digger Pants : Celana ramping dengan panjang sebetis.

Clog : Alas kaki mirip dengan bakiak yang memiliki sol yang tebal.

Clutch Bag : Tas untuk wanita biasa digunakan di acara-acara formal seperti misalnya sebuah pesta. Tas ini adalah salah satu tas pegang (mirip dengan dompet) yang memiliki ukuran bervariasi.

Coat : Baju luar yang dikenakan di atas baju lain untuk memberikan saat udara dingin.

Cocktail Dress : Biasa dikenakan untuk pesta cocktail yang diadakan saat sore menjelang malam. Panjang gaunnnya bervariasi.

Coir :  Serat alami yang berbahan serabut kelapa. Coir memiliki panjang 15 – 30 cm . Coir memiliki dua warna warna kuning kecokelatan dan merah kecokelatan. Sebagai serat alami coir dapat diandalkan, karena ketahanannya terhadap kelapukan. Ketahanan tersebut merupakan akibat dari kandungan asam silicic dan lignin (Klust, 1983b).

Computer Bag : Tas yabg dirancang khusu untuk membawa laptop berikut peralatannya.

Cowl Collar : Kerah lebar yang melipat membentuk draperi sampai ke bahu.

Crinoline : Rok yang populer pada abad ke-19, yang membentuk rok menggembung yang dilengkapi dengan kawat yang berbentuk seperti kurungan ayam.

Crochet : Teknik merajut yang menggunakan alat mirip jarum besar yang ujungnya berkait.

Cropped Pants : Celana yang panjangnya sampai mata kaki yang mengecil atau bisa melebar ke bawah.

D

Dasi : Pelengkap busana untuk pria, biasa digunakkan pada acara formal.

Decline : Siklus dalam mode saat menurunnya popularitas suatu trend karena sudah melewati titik jenuh.

Demi Boot : Sepatu Boot yang tingginya hanya sampai mata kaki.

Denim : Kain yang  berstruktur tenun keper.

Dermatograph : Pensil yang dipakai untuk menggambar di media yang berwarna gelap.

Draping : Teknik membuat busana pada patung.

Drawstring Bag : Tas yang di kerut pada bagian atasnya yang berfungsi sebagai buka-tutup tas.

Drawstring Neck : Leher baju yang dikerut dengan pita, tali, dsb.

Dress Form: Biasa disebut dengan istilah dummy, manekin. Patung tiruan menyerupai badan manusia, pria maupun wanita.

Drill : Kain tenun yang berat dan kuat yang brstruktur tenun keper.

Drop waist : Garis pinggang yang diturunkan mendekati garis pinggul.

Duffle Bag : Tas berbentuk silinder yang dibuat untuk membawa berbagai keperluan pribadi saat berpergian atau berolahraga.

E

Eco Fashion : Busana ramah lingkungan yang mementingkan kesejahteraan dalam proses produksinya dan lingkungan sekitar.

Empire Line : Model baju yang garis pinggangnya naik hingga bawah dada.

Espadrille : Sepatu yang bagian atasnya terbuat dari kanvas dan tumitnya dari kepangan bahan karung atau tambang. Modelnyapun bervariasi.

Etnik : Motif yang berkesan tradisional.

F

Fashion : Gaya yang paling populer dalam suatu waktu, terdiri dari tiga komponen yaitu: style, acceptance, dan timeliness ( frings, 1987 ).

Fedora : Topi yang pada bagian atasnya terdapat lekukan memanjang kedalam dan pinggirnya agak melengkung ke atas dan mengecil namun pinggiran topinya tidak lebar.

Felt : Kain bukan tenun dari serat alam maupun sintetis yang dipadatkan melalui proses penekanan, pemanasan, dan penguapan yang menghasilkan permukaan yang berbulu.

FEZ : Topi yang berbentuk silinder dan mengecil ke atas, dengan hiasan jumbai terjuntai dari atas topi.

Fibula : Bros yang bentuknya mirip dengan peniti.

Flat front : celana yang lurus yang bagian depannya tanpa lipit juga tanpa saku.

Floral : Motif yang mengambil unsur dominan bunga dalam komposisi keseluruhan.

Frog Closure : Kancing yang tetbuat dari tali kord  atau tali dari kain yang dibentuk sedemikian rupa dan dikaitkan dengan menggunakan sengkelit. Disebut juga Kancing Cina.

Fuchsia : Warna pink keungu-unguan atau kebiruan, mirip dengan warna magenta.

Funnel Collar : Kerah yang tinggi dan lebar menutupi leher. Namun tidak menempel pada leher, sedikit berjarak.

G

Garisgaris atau stripe : Pengulangan garis yang membentuk motif yang teratur maupun tidak teratur baik dari segi warna maupun ukuran

Garment Bag : Koper yang bisa dilipat yang berfungsi untuk menaruh jas atau pakaian yang digantung tidak kusut.

Geometris : Motif yang terdiri dari bentuk-bentuk bangun ruang (persegi, persegi panjang, lingkaran, segitiga,jajar genjang).

Gladiator : Sepatu dengan deretan tali-tali  yang melingkari kaki. Dengan tinggi bervariasi.

Glen Plaid : Corak kotak-kotak besar dan kecil dengan warna yang sama.

Godet : Sebuah bentuk segitiga yang berada di pinggiran rok, gaun, atau lengan yang memberian efek kelebaran.

Gothic : Gaya berbusana yang dominan dengan warna hitam pekat, rias wajah yang pucat dengan aksesoris serba kaku atau keras.

Gringsing : Tenun ikat ganda yang ragam hiasnya bermotif simetris.

H

Half Windsor Knot : Simpul dasi pria yang berbentuk segitiga.

Halter Neck : Potongan kerah V yang saling tumpang tindih yang diteruskan mengitari leher, sehingga bahu dan punggung terbuka.

Handle : Pegangan tas bisa berbentuk jinjingan atau digantungkan pada bahu.

Harem Pants : Celana yang longgar dengan kerutan di pinggang dan di pergelangan kaki.

Henep : Serat yang diperoleh dari batang tanaman Cannabis sativa. Tanaman henep menghasilkan cairan yang mengandung narkotik marijuana, sehingga dibeberapa daerah  penanaman henep dilarang.

Herringbone : Kain tenun berstruktur keper yang  arah kepernya saling berlawanan membentuk liku-liku seperti tulang ikan.

Hijab : Penutup kepala untuk wanita muslim, biasa disebut kerudung.

Hijau : Salah satu warna sekunder hasil dari pencampiran warna biru dan kuning. Memiliki kesan sejuk, alami, menyegarkan, dan menenangkan.

Hip Pocket : Saku yang dijahit di bagian belakang celana atau rok, letaknya diatas pinggul.

Hippy : Sekumpulan anak muda hedonis yang menolak tampil rapi dan memilih berdandan kreatif dengan menggabungkan berbagai elemen dari berbagai  bangsa. Pada tahun60an.

H-Line : Siluet dengan garis lurus dikedua sisinya dengan garis horizontal pada pinggang atau panggul.

Hobble : Siluet pada rok atau gaun yang menyempit pada bagian lututnya. Biasa dipakai pada gaun malam atau gaun pengantin.

Hobo Bag : Tas bahu yang melengkung pada bagian bawahnya. Ukurannya bervariasi.

Hoop Earrings : Anting-anting berbentuk lingkaran, terdapat dalam berbagai ukuran.

Horse Shoe Neck : Garis leher yang berbentuk tapal kuda.

Hot pants : Celana  yang sangat pendek terletak di atas paha.

Houndstooth : Motif kotak-kotak bergerigi, termasuk kedalam tenunan keper.

Hourglass : Siluet dengan pinggang ramping, dada dan pinggulnya menonjol. Seperti jam pasir.

Housedress : Disebut juga daster. Hanya dikenakan di dalam rumah saja.

Hue :  Istilah yang digunakan untuk menunjukkan nama dari suatu warna, seperti merah, biru, hijau, dan sebagainya . Contohnya apabila hijau berubah menjadi kebiru-biruan maka dapat dikatakan warna hijau telah berubah huenya, dan dapat disebut hijau biru dan bukan lagi hijau.

I

Ikat Ganda : Kain tenun yang penerapan motifnya menggunakan teknik ikat pada benang lusi dan benang pakannya.

Ikat Pakan : Kain yang penerapan corak dan warnanya menggunakan teknik ikat pada benang pakannya.

Indigo : Warna biru tua keungu-unguan.

Inseam : Jahitan pada pipa celana dari selangkangan ke bawah.

Intensity atau chroma : Dimensi yang berhubungan dengan cerah atau suramnya warna.

Iridescent : Tampilan yang menghasilkan permainan warna-warna pelangi.

Isen-isen : Corak pengisi pada ragam hias hias batik, berupa titik-titik, garis, ataupun spiral.

Ivory : Warna putih semu gading, agak kekuning-kuningan.

J

Jabot : Liku-liku  yang menempel di bagian kerah.

Jacket : Baju luar dengan berbagai variasi dengan berbagai fungsi, bisa untuk menghangatkan tubuh, menghindari sinar matahari mengenai tubuh atau sebagai padu padan dalam berbusana.

Jas Safari : Jas yang dilengkapi dengan banyak saku yang dilengkapi klep dan kancing.

Jellie Shoes : Sandal warna-warni transparan, terbuat dari plastik seperti karet.

Jelujur : Jahitan berjarak yang tidak permanen atau sementara yang dilakukakan pada saat proses pembuatan busana.

Jodhpurs : Celana panjang untuk menunggang kuda yang menggembung pada bagian paha hingga lutut hingga pergelangan.

Julietre Sleeves : Lengan panjang yang menggembung di pangkal lengan lalu mengetat sampai pergelangan.

Jumpsuit : Celana terusan yang menyatu dari bagian atas.

Jumputan : Kain yang dalam prosese pembuatan corak dan warnanya menggunakan teknik celup ikat.

Jute : Serat yang didapat dari kulit batang tanaman Corchorus capsularis dan Corchorus olitorius. Tanaman jute yang ditanam untuk diambil seratnya mempunyai batang kecil, tinggi, dan lurus.

K

Kain : Hasil tenunan, rajutan, kempaan dari serat atau benang.

Kain Tritik : Kain celup ikat dengan corak titik-titik yang saling sambung menyambung seperti hasil jelujur.

Kain Wiru : Kain panjang yang salah satu sisinya dibuat berlipit-lipit seperti kipas.

Kawung Bribil : Motif-motif kawung yang tersusun oleh bentuk yang lebih besar dari pada kawung Picis

Kebaya : Pakaian tradisional wanita Indonesia baerupa blus atau atasan lengan panjang atau pendek dengan bukaan di depan.

Kelepak : Bagian depan jas yang melipat keluar dan menyambung pada kerah jas.

Kelepak Runcing : Disebut juga Peaked Lapel. Kelepak ini berujung runcing.

Kelepak Setali : Disebut juga Shawl Lapel. Kelepak ini menyatu dari tengkuk hingga bukaan yang di depan.

Kelepak Takik : Disebut juga Notched Lapel. Kelepak ini membentuk torehan segiitiga pada pertemuan kerah dengan kelepak.

Kelly Bag : Tas dengan dinding yang kaku, bentuknya kotak yang agak mengecil ke atas yang dilengkapi dengan bukaan metal, terbuat dari bahan kulit.

Kembang Goyang : Tusuk sanggul berbentuk bunga bertangkai spiral.

Kemben : Penutup dada dari kain panjang mirip pita lebar yang di lilitkan membelit torso dari pinggul hingga dada.

Kerah Draperi : Kerah yang memiliki lipatan-lipatan lembut yang jatuh dengan luwes diseputar leher.

Kerah Polo : Kerah dengan bahan rajut garis-garis dilengkapi lidah  pada bukaan depan 2-3 kancing.

Kerchief : Secarik kain berbentuk bujur sangkar yang dilipat menjadi segitiga sebagai penutup kepala.

Keyhole neck : Garis leher dengan lubang berbentuk lengkungan mirip lubang kunci.

Khaki : Warna cokelat kusam bernada kuning semu abu-abu kehijauan.

Kick Pleat : Lipit yang saling berhadapan pada rok, dibuat untuk kenyamanan dalam berjalan.

Knapsack : Sebuah tas ransel yang bagian atsnya di kerut tidak seperti ransel-ransel biasanya.

Knickerbockers : Celana lebar agak bervolume dengan panjang selutut,di bagian lututnya diberi manset atau pita.

Knit : Kain yang dibuat dengan teknik pengaitan benang sehingga  memiliki kelenturan atau elastisitas.

Kotak-kotak atau Gingham : Susunan bentuk persegi (kotak) yang di ulang secara bersamaan dengan pengulangan setengah.

Kulot : Celana yang dibuat melebar sehingga tampilannya berkesan seperti rok.

Kuning ; Salah satu warna primer yang memiliki kesan cerah, terang, ceria, dan menghangatkan.

Kupnad : bagian dari baju yang dijahit untuk membentuk badan si pemakai.

L

Label : Sepotong kain bahan yang di tempelkan pada pakaian berupa pita, atau kain yang memuat tentang merek, ukuran, dsb

Lame : Kain yang terbuat dari benang metalik yang membuat kesan mengkilat.

Leg Warmers : Penutup kaki terbuat dari bahan rajut, awalnya dikenakan penari balet.

Leging : Celana yang memiliki ukuran pas dengan pemakainya karena memilki tingkat kelenturan.

Leher Asimetris : Garis leher yang tidak sama pada kedua sisinya.

Lengan Dolman : Lengan model lebar yang digunting menyatu dengan bahu, menyempit di pergelangan.

Lengan Kabuki : Lengan yang berpotongan lebar, melayang, dengan panjang bervariasi, ynag di adaptasi dari lengan kimono.

Lengan Pagoda : Lengan dengan bentuk melebar ke bawah, bertingkat-tingkat mirip pagoda.

Lengan Raglan : Lengan yang menyatu dengan badan atas baju lewat potongan dan jahitan serong dari garis leher hingga ke bawah ketiak.

Lengan Tulip : Lengan pendek yang saling tumpang tindih didepan berbentuk lengkung-lengkung menyerupai bunga tulip.

Leontin : Hiasan atau bandulan yang menggantung pada kalung.

Lila : Warna ungu muda, lembut cenderung pucat.

Lipit Akordion : Bentuk lipit yang menyerupai alat musik akordion.

Lipit Hadap : Lipit yang kedua sisinya saling berhadapan di luar.

Lipit Kotak : Lipit yang terbentuk dari kedua lipatan yang saling bertemu di dalam lipatan.

Lipit pipih : Lipit-lipt yang lurus dan sejajar ke arah yang sama.

Loafers : Sepatu flat tanpa tali dengan bagian depan yang tertutup. Terbuat dari kulit dengan aksen buckle, tassels atau coin holder.

Long Torso : Gaun dengan garis pinggang yang diturunkan sampai ke pinggul.

Lounge Suit : Setelan jas pria dalam acara semi formal.

Lurex : Benang mmetalik yang disisipkan pada kain rajut sehingga tampak gemerlap.

M

Magenta : Warna merah keunguan, mirip dengan fuchsia.

Makrame : Teknik jalinan benang atau tali dengan menggunakan bermacam-macam simpul.

Manik-manik : Unsur dekoratif untuk mempercantik busana yang memiliki lubang ditengahnya agar bisa dikaitkan di busana oleh benang.

Maroon : Warna merah tua agak kecoklat-coklatan.

Mary Jane : Model sepatu wanita dengan ban melintang dibadan sepatu.

Matte Jersey : Kain rajut yang licin namun tidak mengkilat, terbuat dari benang crepe halus.

Mauve : Warna ungu lembut, redup, agak merah agak keabu-abuan.

Maxi : Rok atau gaun yang panjangnya sampai mata kaki atau lebih.

Merah : Salah satu warna primer yang memiliki kesan dinamis, berani, seksi, dan elegan.

Merah Bata : Warna merah kecoklatan, mirip warna batu bata.

Mermaid Skirt : Rok dengan potongan menyempit dari pinggul ke lutut lalu melebar ke bawah seperti ikan duyung.

Midi : Rok atau gaun yang panjangnya sampai ke betis.

Minaudiere : Tas kecil sebagai pelengkap busana malam yang terbi metal yang terbuat dari  metal yang berhiaskan manik-manik yang gemerlap.

Mini : Rok atau gaun yang panjangnya di atas lutut.

Moccasin : Sepatu flat dengan materian hampir sama seperti loafera menyerupai dengan yang dikenakan suku indian america. Dapat berupa sneakers dan boots.

Mod (Modernist) : Sekumpulan yang menerapkan gaya hidup bersih di masa-masa yang sulit. Berasal dari London akhir tahun 50an dan berjaya di tahun 60an.

Monk Shoes : Sepatu pria dengan ban lebar di badan sepatu, dilengkapi gesper di sisi luarnya.

Monogram : Tanda atau identitas, biasanya berbentuk inisial.

Mortarboard Cap : Topi berbentuk segi empat dengan juntaian bulu di bagian atasnya, biasa digunakan untuk acara wisuda.

Motif : Corak pada kain sehingga kain terlihat lebih menarik.

Mule : Selop yang tertutup dibagian depan.

N

Navy Blue : Warna biru tua atau biru gelap.

Negligee : Pakaian wanita hanya dikenakan di area kamra tidur. Pakaian ini terbuat dari bahan tipis yang menerawang berhiaskan pita atau renda.

New Look : Siluet yang sangat feminin  terbentuk dari rok yang lebar menggembung dengan bahu dan pinggnag yang ramping.

O

Obsolescence : Tahap akhir dari siklus mode. Trend  yang sangat di minati awalnya menjadi tidak diminati kembali.

Off shoulder : garis leher yang sangat lebar sehingga terjatuh ke lengan bagian atas. Sehingga memperlihatkan bahu dan leher.

Olive : Warna hijau pucat kekuning-kuningan  dengan adanya sedikit unsur keabuan.

Ombre atau gradasi : Motif yang merupakan hasil dari perpindahan warna baik dari gelap ke terang atau sebaliknya.

Outerwear : Pakaian yang dikenakan di atas pakaian lain. Bisa berbentuk jaket, dsb.

Outfit : Seperangkat pakaian terdiri dari beberapa potong yang akan dikenakan secara bersamaan.

Oversize : Lebih besar dari ukuran yang sebenarnya.

Oxford : Sepatu pria dengan bukaan  tali-temali. Dan bagian depan sepatu biasanya diberi lubang-lubang untuk hiasan.

P

Padding : Sebuah bantalan yang menciptakan bentuk atua kesan berisi.

Paisley : Motif yang terinspirasi dari bentuk tumbuhan terutama daun.

Palazzo : Celana panjang dengan pipa sangat lebar ke bawah.

Panama : Topi yang terbuat dari anyaman jerami yang pinggirannya lebar.

Pantalon : Celana panjang pria sampai mata kaki.

Pantsuit : Setelan yang terdiri dati celana dengan atasan berupa blazer.

Pantyhose : Kaus kaki wanita yang menyatu dengan celana dalam yang terbuat dari bahan nilon tipis.

Parka : Jaket sepinggul yang penutup kepalanya menyatu dengan jaket, biasanya terbuat dari bahan anti air.

Pastel : Warna-warna yang sudah tercampur dengan warna putih yang banyak sehingga menimbulkan warna-warna muda yang cerah dan lembut.

Patch Pocket : Saku tempel pada bagian luas baju.

Patchwork : Tambal-tambalan kain perca yang disatukan membentuk sebuah kain baru yang menarik.

Pattern Draping : Pembuatan pola secara 3 dimensi yang proses pengerjaannya menggunakan manekin.

Pattern Grading : Proses pembuat pola dengan cara memperbesar atau memperkecil ukuran pola.

Patternmaker : Orang yang membuat pola.

Payet  : Piringan-piringan kecil mengkilat, berlubang ditengahnya untuk ditempelkan/dijahitkan pada baju, sepatu dan aksesoris lainnya sebagai hiasan.

Pea Coat : Jaket yang sportif yang memilii ciri khas kelepak yang lebar, kancing besar dua baris, dam saku bobok vertikal.

Peach : Warna oranye atau jingga lembut semu pink.

Peasant Dress : Gaun dengan garis leher rendah dengan penuh kerutan. Lengannya pun menggembung dan penuh dengan wiru-wiru.

Peep Toe : Sepatu tertutup yang ujungnya di potong sehingga jarinya terlihat keluar.

Pencil Skirt : Rok dengan potongan lurus dari pinggul ke bawah.

Pending : Ikat pinggang yang terbuat dari emas.

Peplum : Tambahan rok pada pinggang yang membuat kesn tubuh panjang dan panggul lebih bervolume.

Peterpan Collar : Kerah berbentuk bulat yang berujung bundar.

Pillbox : Topi tanpa pinggiran, bentuknya bulat atau oval berdinding lurus atau rata.

Pin Stripes : Motif garis-garis tipis sejajar.

Pin Tucks : Disebut juga lipit tindas. Lipit-lipit kecil yang berjajar dan dijahit oleh mesin, sebagai hiasan.

Pink : Warna merah jambu hasil campuran warna putih dengan merah, sering disebut juga dengan warna feminin.

Platform : Heels yang sol dan haknya tebal untuk menunjang tinggi badan pemakainya. Biasanya hak heels ini diatas 9cm.

Plum : Warna ungu tua agak kemerahan.

Polkadot : Motif lingkaran atau bulat yang di susun berulang pada kain.

Polo Shirt : Kemeja kaos berkerah dan berlengan pendek, biasa digunakan untuk berolah raga atau bersantai.

Pompon : Hiasan dari bola-bola terbuat dari benang.

Poncho : Penutup tubuh berbentuk bundar atau persegi panjang dengan lubang di bagian leher.

Pop Art : Hasil pergerakan yang di prakarsai oleh Andy Warhol.

Pouch Bag : Sebuah tas kecil tempat menyimpan peralatan make up (untuk wanita) yang selalu di bawa kemana-mana di dalam tasnya.

Prada : Warna emas yang ditorehkan pada kain batik.

Preppy : Gaya dikalangan anak muda yang memadupadakan ciri-ciri baju sekolahan dengan gaya masa kini yang segar.

Princess Dress : Gaun klasik dengan garis vertikal. Pas di badan namun agak melebar ke bawah.

Princess Length : Untaian kalung mutiara dengan panjang 45cm.

Printing : Menerapkan sebuah corak atau motif pada kain dengan menggunakan mesin atau manual.

Psychendelic : Motif yang terdiri dari warna-warna neon yang mulai berkembang sejak tahun 1970.

Pumps : Sepatu tertutup dan memiliki hak atau heels.

Punk : Sekumpulan anak muda yang anti-kemapanan dan menunjukkan gejala tingginya pengangguran. Yang muncul dengan semangat akan kemarahan, pemberontakkan, nafsu, sekaligus kecemasan. Berasal dari London akhir tahun 70an.

Q

Quilt : Sebuah teknik yang menumpuk beberapa helai kain yang disatukan dengan dijahit yang jahitannya membentuk motif-motif geometris.

Quilted Bag : Tas yang dinding luarnya diberi quilt atau jahitan yang menimbulkan efek-efek menggembung.

R

Raincoat : Baju luar yang dipakai saat hujan, dan tahan air. Atau disebut jas hujan.

Rajut : Suatu cara pembuatan kain yang terbentuk dari ikatan-ikatan benang yang saling bertautan.

Rajut Tangan : Teknik rajut yang dilakukan secara manual menggunakan sepasang jarum yang berkait diujungnya.

Renda : Hiasan berupa pita halus dengan desain keseluruhannya tercipta dari benang.

Retro : Sebuah pakaian yang jaman dulu namun brand new bukan bekas.

Rok Pias : Rok yang terbuat dari lajur memanjang, terdiri dari 4, 6, 8 pias, atau lebih.

Rok Sarung : Rok yang meniru pemakaian sarung atau kain panjang yang dililitkan ditubuh.

Rok Span : Rok engan potongan ketat yang menyempit ke bawah.

Roll Collar : Kerah agak tinggi yang dilipat. Terjatuh keluar.

Rope : Untaian kalung mutiara yang panjangnya bisa mencapai 100cm.

Rose : Warna merah jambu yang bernada sedang, pink tua.

S

Saddle Shoes : Sepatu dengan paduan warna kontras di bagian atas yang memiliki bukaan tali temali. Dan bagian ujung dan belakangnya bewarna putih.

Sailor Collar atau kelasi : Kerah lebar berbentuk persegi menggantung di punggung, bagian depannya mengecil membentuk siluet V pada leher.

Saku bobok : Saku yang dijahit di bagian dalam baju sehingga dari luar hanya tampak garis atau belahan saku.

Saku Klep : Saku yang dilengkapi klep pada bagian atasnya.

Salmon : Warna oranye atau jingga yang lembut mengandung unsur pink.

Sandal : Alas kaki yang terbuka bagian depannya, bisa memakai tali bisa tidak.

Satchel Bag : Tas besar yang bagian datarnya lebar dan besar dengan bukaan resleting atau gesper.

Sawat : Motif batik berupa sayap dan ekor burung garuda.

Scallop : Hiasan pada tepi pakaian, kain, atau renda yang berbentuk lengkungan yang sejajar.

Scarlet : Warna merah cemerlang.

Scoop Neck : Garis leher yang berbentuk huruf-U.

Scraft : Sehelai kain segi empat yang di bentuk sedemikian rupa sehingga dapat diikatkan atau diselipkan di leher, di bahu, bahkan di kepala.

Seam atau kampuh: Jahitan yang menggabungkan dua helai kain atau lebih.

Serat : Helaian yang strukturnya menyerupai rambut. Ada serat alami, buatan, dan campuran.

Serat Alami : Semua serat bahan yang bersumber dari alam. Terdapat dua kategori utama yaitu yang berasal dari tanaman serta hewan.

Serat Eceng Gondok : Serat yang diperoleh dari batang tanaman air enceng gondok (Eichhornia crassipes solms). Serat berwarna coklat, kuat, tahan panas dan tahan cuci. Dapat digunakan sebagai bahan baku kerajinan dan media batik.

Serat Nanas : Serat yanbg berasal dari daun nanas yang ditenun menghasilkan kain halus, tipis, ringan, dan agak mengkilap.

Sheat : Gaun terusan berpotongan ramping membentuk tubuh, panjangnya sampai ke lutut.

Shell : Blus tanpa lengan, biasanya digunkan senagai dalaman.

Shift : Gaun pendek, umumnya pada lengan, lurus dari bahu ke bawahtanpa potongan pinggang.

Shirt Dress : gaun yang meniru gaya kemeja pria terutama pada bagian kerah dan bukaan kancing di depan.

Shocking Pink : Warna pink menyala dan cemerlang. Biasa di sebut dengan pink neon.

Shopping Bag : Sebuah tas khusus untuk belanja, ada yang terbuat dari kertas atau paper bag dan terbuat dari kain untuk tempat-tempat belanja tertentu. Ukurannya pun bervariasi.

Shorts : Celana dengan panjang mulai dari paha hingga lutut.

Shrug : Semacam jaket wanita ynag sangat pendek sekedar menutupi bahu. Menyerupai bolero.

Silk : Serat yang berasal dari serangga, yaitu ulat cocoon. Filament tunggal dari cocoon dapat mencapai panjang 1600 m. serat silk termasuk serat hewan karena struktur proteinnya. Serat silk terdiri atas tiga jenis, yaitu luster, drape dan strength. Ketiganya dibedakan atas tahapan dalam proses pembuatannya (Binhaitimes, 2005b).

Simetris : Desain yang sengaja dibuat sama pada kedua sisinya.

Sling Back : Sepatu dengan tali hingga ke belakang mengelilingi tumit yang dikencangkandengan gesper.

Sling Bag : Tas bertali yang diselempangkan pada bahu.

Slipper : Selop yang hanya dikenakan didalam ruangan.

Smock : Teknik menjahit yang dekoratif yang menciptakan kerutan-kerutan bermotif.

Snap atau kancing cepret: kancing yang terdiri dari dua bagian yang satu memiliki benjolan dan yang satunya lagi cekung untuk menahan kancing yang satunya lagi.

Snip Toe : Sepatu yang ujungnya meruncing, ujungnya persegi seperti terpotong.

Socks : Kaus yang membungkus kaki. Berfungsi untuk melindungi kaki dari sepatu agar tidak lecet, memberikan kenyamanan, maenyerap keringat, dan kehangatan.

Solitaire : Cincin dengan sebentuk batu mutiara atau berlian.

Sombrero : Topi lebar yang bagian mahkotanya tinggi mengerucut.

Spagheti Strap : Tali di bahu yang di pasangkan pada pakaian wanita, seperti tali pada tanktop.

Spencer Jacket : Jas berpotongan ramping sampai ke pinggang.

Spread Collar : Kerah kemeja pria yang kedua ujung kerah letaknnya berjauhan.

Staple : Serat yang berukuran kecil atau pendek

Stiletto : Sebuah hak tinggi yang tinggi haknya mencapai 15cm dan haknya tipis dan runcing.

Straight Pants : Celana tanpa lekukan, celana dengan potongan dari pinggang hingga pergelangan yang sama rata sama lebar.

Stretch : Daya regang dari serat sebuah kain.

Style : Karakter atau tampilan tertentu dari pakaian atau aksesoris. Style sifatnya datang dan pergi dalam fashion, terkecuali style tertentu yang sifatnya tak terpengaruhi waktu walaupun sedang tidak in fashion.

Sulam atau bordir  : Suatu teknik yang digunakan untuk membuat hiasan-hiasan pada permukaan kain dengan menggunakan benang hias sulam, pengerjaannya dapat menggunakan tangan atau pun dengan mesin.

Sundress : Gaun santai yang ringan untuk iklim tropis atau panas.

Sutera : Serat yang diperoleh dari sejenis serangga yang disebut Lepidoptra. Serat sutera yang berbentuk filament dihasilkan oleh larva ulat sutera waktu membentuk kepompong. Spesies utama yang dipelihara untuk menghasilkan sutera adalah Bombyx mori (Soeprijono et al., 1973).

Swatch : Sepotong kain untuk contoh bahan.

Sweater : Baju luar yang terbuat dari bahan rajut biasanya wol. Berfungsi untuk menahan hawa dingin agar tetap hangat.

Sweetheart Neckline : Garis leher yang berbentuk lengkungan ganda menyerupai bentuk hati.

T

Tab Collar : Kerah kemeja yang kedua ujungnya disatukan oleh 1-2 potong kain kecil yang di kancingkan di bawah simpul dasi.

Tan : Warna coklat muda yang lembut , mirip warna beige.

Tanktop : Atasan tanpa lengan biasa digunakan sebagai baju santai atau sebagai dalaman.

Tartan : Motif khas Scotlandia yang menyerupai kotak-kotak namun bisanya terdiri dari minimal 4 warna.

Tarum : Pewarna alam untuk warna biru.

Tassel : hiasan rumbai-rumbai terbuat dari benang, tali, atau bahan lain yang di ikat atau disimpul di satu sisi.

Taupe : Warna coklat keabu-abuan.

Tea Length dress : Gaun yang panjang sebetis, biasanya terbuat dari bahan yang ringan dan feminin.

Teal : Warna campuran biru dengna hijau atau hijau kebiruan mirip tosca  dalam nada lebih pekat.

Tekstur : Ukuran dan susunan (jaringan) bagian suatu benda; jalinan atau penyatuan bagian-bagian sesuatu sehingga membentuk suatu benda (seperti susunan serat pada kain).

Tent Dress : Gaun dengan siluet segitiga menyerupai tenda, menyempit dibahu dan longgar ke bawah.

Tenun : Hasil kerajinan yang berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutra, dsb) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melintang pada lungsin.

Terakota : Warna cokelat agak kemerahan.

Timeliness : Faktor waktu, mengindikasikan adanya perubahan. Fashion yang sudah berlaku di satu tahun biasanya bukan fashion lagi pada tahun berikutnya.

Tint : Warna yang sudah di campur dengan warna putih, yang akhirnya menghasilkan warna yang terang dan cerah.

Top Hat : Topi yang mahkotanya  tinggi berbentuk silinder dengan pinggiran sempit dan menekuk ke atas.

Top Stitch : Jahitan timbul yang terletak di pinggiran bisa sewarna atau kontras dari warna kain yang fungsinya sebagai hiasan.

Topi : Penutup kepala yang berfungsi sebagai pelindung dari cuaca, pelengkap busana agar terlihat modis, bagian dari tradisi agama, dsb.

Topi Koboi : Topi yang biasa di pakai para penggembala (cowboy), dan sering juga di pakai oleh penggemar musik country, dan busana western.

Topi Pelaut atau Kelasi : Topi yang terbuat dari kain dari pinggiran yang terlipat ke atas.

Topi Pet : Topi yang pas membentuk kepala dan ada bagian yang menjorok kedepan untuk melindungi dari sinar matahari. Biasa disebut dengan Cap.

Tosca : Warna biru kehijauan, mirip dengan warna batu pirus atau turquoise.

Tote Bag : Tas serbaguna untuk membawa segala keperluan, bentuknya persegi, kokoh, dengan pegangan atau bisa juga bertali bahu lebar.

Track Pants : Celana yang di beri elastisitas di bagian pinggang. Biasa digunakan untuk berolahraga.

Train : Bagian belakang rok panjang yang menyapu lantai.

Tren atau trend : suatu situasi dan predikat yang diberikan apabila suatu objek, baik itu menjadi di kenal, digunakan atau di bicarakan oleh orang banyak. Tren umumnya berlaku tidak subjektif, walaupun dalam hal ini, selera dan kesukaannya banyak orang menjadi pertimbangan, namun tren adalah gejala yang ditangkap secara umum,sehinnga apa yang “ disukai “ atau “ favorit “ adalah yg berlaku relatif bagi banyak orang atau masyarakat.

Trench Coat : Jas luar yang biasanya berkancing dua deret. Dilengkapi klep pada manset dan bahu. Serta terdapat ikat pinggang.

Trend Mode : Suatu gaya atau potongan yang berubah-ubah setiap periodenya.

Trend Warna : Warna-warna yang populer pada suatu musim atau periode.

Trendsetter : Orang yang berada paling depan atau paling awal menerapkan trend baru yang muncul.

Trousers : Celana dengan panjang menutupi mata kaki.

Trumpet Dress : Gaun yang lingkaran bawah roknya lebar menyerupai terompet.

T-shirt : Atasan berbahan kaus, tanpa kerah, tanpa kancing. Dan biasanya berleher bundar.

T-strap : Sepatu dengan tali vertikal membentuk huruf T yang menghubungkan sepatu dengan pergelangan kaki.

Tulip Skirt : Rok yang menyerupai kelopak bunga tulip.

Turtle Neck : Leher baju yang tinggi menutupi leher,  jatuh melipat ke bawah, banyak terdapat pada pakaian dari bahan rajut.

Tutu : Rok balerina yang terbuat dari tulle yang kaku, modelnya rok pendek dengan berkerut di pinggang dan bertumpuk.

Twinset : Busana wanita yang terdiri atas pasangan mantel dengan dalamannya dipakai secara bersamaan.

U

Ulos : Kain tenun khas suku Batak dan Mandailing di Sumatera Utara.

Undertone : Istilah dalam warna lain yang terkandung dalam warna.

Unpressed Pleat : Lipit-lipit lembut yang terbentuk dengan sendirinya.

V

Value :  Dimensi kedua atau mengenai terang gelapnya warna. Contohnya adalah tingkatan warna dari putih hingga hitam. Mengubah  value menjadi terang dapat dengan cara menambah warna putih secara bertingkat disebut  “Tint” dan merubah  value menjadi gelap adalah dengan menambah warna hitam secara bertingkat pula disebut ”Shade”

Vanity Case : Biasa disebut dengan make up case. Memiliki ukuran bervariasi mulai dari yang kecil sampai yang besar. Biasanya terdapat laci-laci atau tempat-tempat khusus yang di pisahkan di dalamnya dan juga terdapat kaca.

Velour : Kain yang memiliki bulu-bulu pendek dan padat, terasa lembut saat disentuh.

Vent : Belahan di bagian belakang jas yang berfungsi untuk memberi keleluasaan gerak.

Vest : Atasan tanpa lengan dengan 1 atau 2 deret kancing di depan.

Vintage : Sebuah pakaian yang benar-benar bekas (bukan beli baru). Misalnya pakaian kakak keluaran tahun kemarin namun kita memakai pakaian bekas kakak itu sudah disebut vintage.

Violet : Warna ungu. Seperti bunga violet.

Viscose : Gabungan serat alami dan serat buatan

Voile : kain katun tipis yang ringan dan agak renyah kalau dipegang.

Vuring : Lapisan  yang dijahit di bagian dalam busana yang berfungsi untuk membuat baju tampak lebih bagus, nyaman di pkai, dan tidak berubah bentuk.

W

Waistband : Kain memanjang yang dijahitkan menyerupai ban pinggang yang diberi lapisan kain keras agar terlihat lebih membentuk tubuh.

Warm Colors : Disebut juga warna hangat. Kelompok warna merah, oranye, kuning.

Warna  analogus :  Hubungan warna yang bersebelahan pada lingkaran warna, seperti hijau kuning, kuning dan orange kuning.

Warna : Kesan yang ditimbulkan oleh cahaya terhadap mata, oleh karena itu warna tidak akan terbentuk jika tidak ada cahaya.

Warna komplementer : Hubungan warna-warna yang saling berhadapan dalam lingkaran warna sehingga sehingga warna ini disebut juga warna kontras.

Warna monokromatik : Penggunaan hubungan hanya satu warna dalam susunan value dan intensitasnya digabung dengan warna netral (hitam atau putih). Kesan yang didapat dari warna monokromatik ini adalah tenang serta monotone.

Warna Primer : Warna pokok yang berdiri sendiri dan tidak bisa di dapat dari campuran warna apapun.

Warna Sejuk : kelompok warna bru, hijau, ungu. Disebut juga cool colors.

Warna sekunder : Warna hasil campuran yang seimbang antara warna primer dengan warna primer.

Warna Tanah : Warna yang terdapat pada tanah seperti nada-nada kecoklatan, hijau redup, merah bata. Disebut juga earth colors.

Warna tersier : Hasil campuran warna sekunder dengan warna primer.

Wedges Shoes : Tumit atau hak sepatu yang menyatu dengan bagian sol yang menciptakan efek segitiga.

Wide Pants : Celana dengan potongan melebar dari pinggang ke bawah.

Wind Breaker : Jaket penahan angin yang terbuat dari bahan nilon yang ringan.

Window Display : Memajang barang-barang toko secara kreatif untuk menarik perhatian pelanggan.

Windsor Knot : Salah satu simpul dasi yang lebar, tebal, berbentuk segitiga.

Wol : Merupakan serat yang terpenting diantara serat-serat binatang, berasaldari bulu biri-biri, serat berbentuk stapel atau pendek.

Wrap Dress : Gaun yang dililitkan disekeliling tubuh yang saling menumpang pada bagian depan hingga membentuk V-neck. Lalu di kencangkan oleh belt atau tali di pinggang.

Wristlet : Tas kepit dengan tali mirip gelang yang digantungkan dipergelangan tangan.

X

X-Line : Gaun berpinggang ramping, bagian bahu dan bawah rok lebar.

Y

Yellow Gold : Emas yang paling banyak terdapat di pasaran, hasil pencampuran warna tembaga dan perak.

Y-Line : Siluet yang lebar di bagian badan atas dan ramping dari pinggang  ke bawah.

Yoke : Potongan horizontal disekitar pinggang.

Z

Zoot Suit : Gaya berpakaian pria yang terdiri atas jas selutut berbahu lebar dan mengecil di pinggang.

Iklan

Makna simbolisme pada motif kawung

Posted on

Makna simbolisme warna pada motif kawung didasarkan pada warna klasik yang umum digunakan dalam motif batik, yaitu warna putih,  kekuning-kuningan, merah soga, dan warna hitam.

  • Warna putih memiliki makna simbolisme tentang kesucian, kejujuran, kebenaran, dan berhati mulia, sehingga warna putih merupakan simbol dari sifat “mutmainnah” yang digambarkan dengan arah utara dan simbol air. Makna simbolisme ini diilhami dari kawung latar putih seperti pada Kawung Sen, Kawung Picis, Kawung Beton.
  • Warna kuning memiliki makna simbolisme tentang cinta terhadap kemewahan, suka menonjolkan sesuatu yang dimiliki, sehingga warna kuning dalam perhitungan kepercayaan orang Jawa (kosmologi Jawa) merupakan simbol dari sifat “supiyah” yang digambarkan dengan arah barat, serta simbol dari angin. Makna simbolisme ini dapat diilhami dari bentuk motif kawung yang memiliki warna latar kuning pada pola motifnya.
  • Warna Merah Soga memiliki makna simbolisme tentang sifat yang serakah, tamak, sehingga warna merah soga dalam kosmologi Jawa memiliki makna simbol akan sifat “amarah” yang digambarkan dengan arah selatan, serta simbol dari api. Tetapi apabila manusia dapat menahannya serta dapat melawan, maka akan merubah menjadi sifat yang baik dan bijaksana, suka berderma, serta suka menerima apa adanya. Makna simbolisme dari motif merah soga menjadi inspirasi pada motif kawung yang memiliki warna latar merah soga pada pola motif.
  • Warna hitam memiliki makna simbolisme tentang watak tenang, bijaksana, suka menolong sesama serta mengamalkan kebijakan. Sehingga warna hitam dalam kosmologi Jawa memiliki makna simbol akan sifat “lumawah” yang digambarkan dengan arah timur dan simbol dari bumi. Makna simbolisme dari motif yang menggunakan warna hitam memberi inspirasi pada bentuk kawung yang memiliki warna latar hitam pada motif. Warna-warna pada motif batik klasik secara keseluruhan terkandung konsep tentang “papat kiblat lima pancer”’. Artinya bahwa setiap manusia memiliki empat sifat, yaitu: mutmainnah, supiyah, lumawah, dan amarah, tetapi dari keempat sifat manusia salah satu diantaranya ada yang menonjol. Penonjolan sifat itulah yang akan mewarnai perbedaan karakter dari tiap-tiap manusia yang hidup di dunia.

Ornamen Pelengkap

Posted on

  1. Burung Garuda, yang dalam mitologi Jawa yang melambangkan alam atas atau kehidupan roh. Garuda juga melambangkan keperkasaan dan kekuatan. Jarang ditemukan motif garuda utuh, biasanya hanya mengambil dari unsur sayap, bulu, cakar, atau ekornya
  2. Gunung Meru, dimana secara geometris berbentuk segitiga. Gunung menyimbolkan tempat persemaygan dewa dan perlindungan bagi binatang maupun tumbuhan
  3. Bentuk Cemukiran,adalah ornamen api. Ornamen ini melambangkan kemauan yang kuat, semangat, dan usaha yang tidak pernah mengenal menyerah
  4. Ornamen ular atau naga, ornamen ini dalam pemakaiannya digambarkan ular yang kepalanya memakai mahkota. Ornamen ini melambangkan kesaktian dan kekuatan yang luar biasa.
  5. Ornamen burung, ornamen ini merupakan ornamen utama yang dilambangkan burung merak, phoenix, dan burung yang aneh dan berjengger. Ornamen ini melambangkan kesucian dan dunia atas, karena burung merak ini sebagai kendaraan dewa-dewa.

E. Motif Kawung ditinjau dari Makna Simbolisme yang Terdapat pada Tiap-tiap Jenisnya

Posted on

  1. Motif Kawung Sari: Sari dalam bahasa Jawa dapat diartikan sama dengan “pathi” (tepung). Sari memiliki makna simbol tentang inti manusia hidup untuk menjalankan perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik berdasarkan dari nasehat orang yang lebih tahu atau orang tua, serta ajakan dan larangan dari orang lain tentang hukum adat yang berlaku, sehingga akan memberi hikma tertentu. Namun tentunya perlu adanya penyaringan tentang hal-hal yang baik dan yang buruk dari ajakan kebaikan bagi setiap manusia, sehingga hidupnya akan selalu mendapatkan hikmah dari inti sari yang selalu baik. Interpretasi motif kawung sari memberi pengertian tentang simbolisme dari duduknya antara abdidalern atau rakyat yang selalu dekat dengan rajanya. Makna simbolisme ini diilhami dari ornamen utama kawung sari yang berbentuk bulatan lonjong. Interpretasinya adalah rakyat menyadari sepenuhnya bahwa mengabdi harus memiliki sifat “kamawula”, artinya bahwa dirinya merupakan bagian dari kekuasaan serta mempunyai kewajiban untuk mengabdi. Sedangkan bentuk garis (sawut) yang berhimpitan lurus dengan warna terang memiliki makna simbolisme tentang sinar yang menerangi, yaitu raja harus selalu menerangi rakyatnya dalam keadaan apapun, sehingga rakyat selalu merasa aman, tentram serta damai dalam menjalankan kewajibannya.
  2. Motif Kawung Sekar Ageng: Memiliki pengertian bunga yang besar berbentuk teratai, yaitu memberi makna simbol tentang segala sesuatu yang besar. Interpretasi dari pengertian bunga teratai dimaksudkan bahwa sekar ageng memiliki makna “kewibawaan yang luas”, yaitu sebuah harapan dari yang memakai motif kawung akan mendapatkan kewibawaan yang selalu di hormati serta di segani oleh orang lain dalam bermasyarakat.
  3. Motif Kawung Sen: memiliki makna simbolisme tentang kesatuan kekuatan di dalam mencapasuatu tujuan. Interpretasi Kawun Sen diilhami dari dua buah bentuk titik pada tiap-tiap ornamen utama pada motif Kawung Sen. Pada titik memberi makna sismbol dari rakyat sedang titik yang lain memberi makna simbol dari raja. Maksudnya yaitu kesatuan antara rakyat dan raja yang akan melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan ketentraman, kemakmuran serta keamanan di dalam lingkup kraton.
  4. Kawung Picis: Pecis dapat diartikan sebagai wadah atau tempat yang berasal dari pengertian “cis” yaitu tempat duduk yang letaknya di atas punggung binatang gajah. Binatang gajah dalam ceritera pewayangan digunakan sebagai kendaraan oleh raja, misalnya gajah Dwipangga merupakan kendaraan raja Baladewa. Pengertian di atas apabila dikaitkan dengan motif kawung Picis, terinspirasi dari dua buah titik pada tiap-tiap ornamen utamanya, bahwa makna simbolisme yang terkandung di dalam ornamen memiliki pengertian duduknya antara rakyat dan raja. Pengertian duduk di sini dapat diinterpretasikan sebagai duduk bersama-sama dalam satu wadah atau tempat. Sehingga dapat diuraikan bahwa segala perbuatan manusia akan terwadahi di dalam suatu takaran tertentu tentang baik buruknya amal perbuatan manusia dihadapan Sang Hyang Jagadnata.
  5. Motif Kawung Beton: Pengertian Beton berasal dari nama biji buah nangka, buah nangka yang berada di dalam memiliki makna simbol tentang perbuatan yang baik tidak selalu ditampilkan di luar. Juga di dalam mencapai suatu perbuatan baik, manusia sering mendapatkan berbagai cobaan atau rintangan, seperti halnya jika mengupas buah nangka mesti akan terkena getahnya. Artinya bahwa jika manusia mengerjakan sesuatu perbuatan yang baik, tentu akan mendapatkan cobaan-cobaan yang terkadang ringan atau berat.
  6. Motif Kawung Semar: Nama Semar merupakan salah satu tokoh punakawan yang selalu mengikuti kesatria yang baik dalam cerita pewayangan. Semar memberi makna simbol-isme tentang abdi yang selalu memberi nasehat, petuah, petunjuk, serta pengayom kepada kesatria yang diasuhnya. Sehingga motif kawung Semar memberi makna “pamomong”, artinya seorang abdi dalem harus selalu setia, mengasuh dan mengingatkan kepada orang yang diasuhnya. Motif kawung Semar juga memberi suatu harapan terhadap si pemakai akan selalu terhindar dari suatu perbuatan yang buruk dan mengerjakan perbuatan yang baik menurut ajaran keyakinan yang dianut, sehingga dapat mengambil intisari dari perbuatannya.
  7. Motif Kawung Buntal: Buntal dalam istilah orang Jawa diartikan bunga yang sering digunakan dalam upacara adat sebagai media tolak balak, yaitu memiliki arti untuk mengusir segala sesuatu yang bersifat jahat atau malapetaka yang akan menimpa pada bayi dan anak kecil. Motif Kawung Buntal sering digunakan untuk upacara adat dalam lingkup kepercayaan masyarakat Jawa.
  8. Motif Kawung Kembang: Kembang (bunga) memiliki makna simbolis suatu harapan tentang cita-cita luhur atau baik yang selalu berbunga. Maksud di dalam menggunakan motif kawung Kembang memberikan pemahaman tentang suatu cita-cita yang baik, dapat terhindar dari hal-hal yang buruk, sehingga dapat mengharumkan keluarga, juga masyarakat dan kerajaan.

Simbolisme Motif Kawung

Posted on

Motif kawung merupakan simbolisme dari konsep papat kiblat limo pancer, artinya bahwa kawung memiliki makna simbolisme tentang keempat penjuru arah mata angin atau kiblat, dan menjadi inspirasi bentuk empat ornamen utama yang disusun secara diagonal. Arah barat memiliki makna simbol tentang sumber ketidak beruntungan, karena arah barat menunjukkan terbenamnya matahari sebagai sumber segala kehidupan dan penerangan. Arah timur memiliki makna simbol tentang sumber untuk segala kehidupan, karena arah timur merupakan terbitnya matahari. Arah utara memiliki makna simbol tentang arah kematian, dan arah selatan memiliki makna simbol tentang puncak dari segala-galanya, sedangkan titik di tengah-tengah merupakan simbol dari pusat kehidupan manusia di dunia.

Motif kawung juga memiliki makna simbol tentang “kebulatan tekat” yang  digambarkan dalam bentuk lingkaran-lingkaran pada motifnya. Maksud kebulatan tekat adalah pengabdian diri dari abdi atau rakyat yang sepenuhnya untuk raja dan kerajaannya, seperti dalam cerita pewayangan, yaitu pengabdian para punakawan terhadap kesatria yang diikuti ke mana kesatria pergi. Hal ini dapat dilihat dalam cerita pewayangan bahwa Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong (punakawan) selalu tampil mengikuti kesatria.

Misalnya tokoh Semar memiliki karakter yang tampil dan siap memberi nasehat, petunjuk kepada yang diasuhnya, sehingga para kesatria yang diasuh selalu melakukan perbuatan dan memiliki niat untuk berbuat kebenaran tanpa ragu-ragu dan selalu menghindarkan perbuatan yang cenderung bersifat jahat. Juga para Punakawan melakukan kebulatan tekat yang berfungsi sebagai pelipur lara pada waktu ksatria yang diasuh mendapatkan kesusahan serta menghadapi malapetaka.

Motif kawung juga dapat diinterpretasikan dalam suatu kesatuan atau manunggaling kawula lan raja, artinya kesatuan antara rakyat dengan raja atau merupakan kesatuan antara yang memimpin dan yang dipimpin.

Hal ini dapat dilihat dalam setiap komposisi motif kawung yang selalu terdapat titik-titik atau lingkaran kecil sebanyak dua buah. Titik satu sebagai simbol tentang rakyat (yang dipimpin) serta titik yang lain sebagai simbol raja (yang memimpin). Tujuan simbolisme tentang kesatuan manunggaling kawula lan raja untuk mencapai suatu kesejahteraan, ketentraman, kerukunan serta keadilan bersama. Sehingga antara rakyat dan raja tahu akan kewajiban masing-masing, yaitu rakyat mempunyai tugas untuk mengabdi dan raja mempunyai tugas memimpin serta melindungi rakyatnya.

Motif kawung memiliki makna simbol tentang “kesuburan”, mengingat sumber ide dalam penciptaannya juga mengambil dari bentuk biji. Pada masyarakat Jawa memahami bahwa suatu biji pohon dianggap memiliki makna simbol kesuburan, karena biji merupakan tunas dari kehidupan. Bentuk biji pada motif kawung dapat dilihat dari pengertian kawung dari biji pohon aren yang dinamakan “kolang-kaling” serta biji buah nangka. Biji-biji buah aren dan nangka apabila ditanam akan tumbuh, sehingga dapat dimanfaatkan hasilnya, mulai dari akar sampai pada buahnya atau seluruh pohon dapat dimanfaatkan untuk kehidupan manusia Makna simbol biji dapat dikaitkan dengan penggunaan motif kawung yang memberi harapan pada yang memakai akan suatu berkah tentang kesuburan.

Motif kawung memiliki makna simbol tentang harapan sebuah “umur panjang”. Masyarakat Jawa memahami bahwa motif kawung dapat diinterpretasikan sebagai simbolisme “umur panjang” yang diilhami dari proses tumbuh sebuah biji kolang-kaling yang terus tumbuh dan panjang usianya.

Dengan demikian orang yang menggunakan motif kawung berharap suatu berkah umur panjang, kehidupan yang aman tentram dan damai.

Penggunaan motif kawung

Posted on

Penggunaan motif kawung dikenakan atau yang berhak memakainya adalah para abdi kraton (abdi yang kinasih dan dekat dengan raja serta keluarga raja). Abdi dalam hal ini adalah seseorang yang memiliki derajat rendah (emban, punakawan pengiring para ksatria), motif kawung juga digunakan oleh orang yang memiliki

derajat tinggi atau tingkat punggawa kraton (tumenggung) dalam lingkup keraton.

Adapun penggunaan tiap-tiap motif kawung adalah, sebagai berikut:

  1. Kawung Sari: Sari memiliki arti inti, pokok atau dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah “pathi”. Motif kawung Sari ini yang berhak menggunakan adalah abdidalem kraton yang kinasih, terutama abdidalem perempuan yang disebut dengan istilah emban. Dalam dunia pewayangan motif kawung sari digunakan oleh abdidalem yang bernama Cangik dan Limbuk, dua tokoh abdidalem bisa muncul untuk mengiringi para permaisuri dan putri raja.
  2. Kawung Sekar Ageng: Kawung ini dinamakan Sekar Ageng, dikarenakan motifnya berbentuk bunga (kembang, sekar) yang berukuran besar (ageng). Motif kawung Sekar Ageng digunakan oleh abdidalem perempuan yang kinasih dan dekat dengan raja serta keluarga raja. Abdidalem perempuan yang disebut emban di dalam tokoh pewayangan adalah Cangik dan Limbuk.
  3. Kawung Sen: disebut juga dengan nama Kawung Gidril atau Bribil, yaitu mata uang logam terbuat dari bahan nekel, yang bernilai lima sen. Sen merupakan mata uang Indonesia ketika dijajah Belanda. Motif kawung sen biasa digunakan oleh abdidakm kraton yang memiliki tingkat kepangkatan tumenggung, digunakan dalam upacara atau  kegiatan misalnya untuk menghadap raja.
  4. Kawung Picis: Picis memiliki arti diiris-iris, arti lain dari picis adalah suatu tempat (wadah) seperti “cis” yang terdapat pada punggung gajah. Motif kawung Picis hanya digunakan oleh abdidakm yang kinasih, yaitu abdi kraton dari tingkat derajat rendah yang selalu dekat dengan raja dan keluarga raja. Pakaian tersebut hanya digunakan pada waktu menghadap raja atau keluarga raja. Dalam pewayangan kawung picis dipakai oleh para abdidalem ksatria, seperti Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, serta Togog, Bilung.
  5. Kawung Beton: Motif kawung beton digunakan oleh para abdi dalem kraton kinasih yang dekat dengan para putra raja (ksatria), terutama abdidalem laki-laki. Di dalam pewayangan digunakan oleh tokoh-tokoh punakawan yang arti nya empat saudara, yaitu Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong.
  6. Kawung Buntal: Digunakan oleh para abdidalem perempuan yang tingkatannya di atas para abdidalem derajat rendahan, dalam pewayangan motif kawung buntal dikenakan oleh tokoh emban yang selalu mengiringi raja.
  7. Kawung Kembang: Kawung Kembang dipakai oleh para abdidalem perempuan yang lebih tinggi tingkatannya dari pada emban, yaitu dipakai oleh abdidalem juru rias kraton.
  8. Kawung Seling: Motif kawung seling dipakai oleh para abdidalem perempuan yang tingkatannya lebih tinggi dari pada abdidalem rendahan.

Jenis-jenis motif kawung dan unsur motifnya

Posted on

Beberapa jenis motif kawung gaya Surakarta yang memiliki unsur motif, sebagai berikut:

1.      Unsur motif Kawung Sari

Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk bulatan lonjong, dan pada setiap bagian motif kawungnya. diberi bentuk garis yang membelah menjadi dua bagian seolah-olah menyerupai bentuk buah kopi pecah. Sehingga motif kawung ini sering juga disebut dengan istilah Kawung Kopi.

Ornamen utama yang terdiri dari empat bulatan lonjong disusun berdasarkan garis miring yang silang atau garis diagonal miring, juga disusun dengan bentuk garis lurus yang horizontal maupun vertikal. Bentuk garis-garis tersebut seolah-olah seperti tanda silang pada bentuk visual dari motif kawung. Komposisi warna pada bentuk motif kawung ini terdiri dari warna putih, putih kekuningan, pada ornamen utama, mera soga sebagai warna konturnya, sedangkan warna hitam untuk memberi warna latar dalam motif Kawung Sari.

2.      Bentuk Kawung Sekar Ageng

Terdiri dari unsur ornamen utama berbentuk empat bulatan lonjong yang telah mengalami perubahan menjadi bentuk agak persegi atau bujur sangkar. Pada setiap ornamen utamanya terdapat tiga buah garis (sawut) serta diikuti tiga buah titik (cecek). Bentuk tersebut dalam istilah batik sering disebut dengan istilah cecek sawut. Unsur motif kawung ini juga terdapat isen motif berupa empat bentuk belah ketupat kecil sebagai variasi dalam komposisi bentuk visualnya.

Sedangkan komposisi warna terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna pada ornamen utama, merah soga untuk memberi warna kontur motif dan isen motif, serta warna hitam merupakan latar pada motif Kawung SekarAgeng.

3.      Bentuk Kawung Sen

Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk empat bulatan lonjong yang

Dikomposisikan utama disusun dengan arah sudut miring   berbentuk diagonal yang seolah- olah motif Kawung dibatasi oleh garis lengkung. Komposisi warna pada motif Kawung Sen terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna pada ornamen utama, hitam sebagai warna kontur serta merah soga untuk memberi warna latar pada motif Kawung Sen.

4.      Bentuk Kawung Pecis

Terdiri dari ornamen utama berbentuk bulatan lonjong, dan ukurannya lebih kecil apabila dibandingkan dengan ornamen utama pada Kawung Sen serta bentuk motif batik pada Kawung Pecis agak persegi lonjong. Isen motif Kawung Pecis terdiri dari dua buah titik (cecek) yang terdapat di dalam ornamen utama.

Motif Kawung Pecis disusun berdasarkan garis miring silang atau berbentuk jajaran genjang diagonal, seolah-olah komposisi motif Kawung Pecis dibatasi oleh garis-garis silang pada keempat bentuk.

5.      Bentuk Kawung Beton

Terdiri dari unsur ornamen utama yang berbentuk bulatan lonjong seperti bentuk biji pada buah nangka. Biji buah nangka dalam masyarakat Jawa disebut dengan istilah Beton, sehingga motif ini dinamakan Motif Kawung Beton. Bentuk ornamen pada motif ini dengan ukuran sangat besar apabila

dibandingkan dengan Kawung Pecis maupun Kawung Sen, serta agak bulat, tetapi masih dalam keadaan lonjong. Isen motif yang terdapat pada ornamen utama berupa cecek (titik) dengan ukuran yang besar serta di tengah-tengahnya terdapat bentuk lingkaran kecil. Bentuk lingkaran ini membelah menjadi empat bagian seolah-olah ornamen utamanya dilalui garis silang.

Komposisi warna pada motif Kawung Beton terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna pada ornamen utama, hitam sebagai warna kontur, sedangkan merah soga untuk latar motif Kawung Beton.

6.       Bentuk Kawung Semar

Terdiri dari unsur ornamen utama yang berbentuk empat bulatan lonjong

dengan ukuran besar seperti pada Kawung Beton, tetapi di dalam ornamen utamanya terdapat bentuk bulatan lonjong dengan ukuran yang lebih kecil. Isen motif pada Kawung Semar terdiri dari bentuk cecek (titik) yang terdapat pada lingkaran di dalam bulatan Kawungnya. Di tengah-tengah

  • ornamen utama terdapat isen motif yang berbentuk belah ketupat yang diisi dengan cecek- cecek (titik-titik) serta beberapa titik berbentuk sederetan yang melingkar. Komposisi warna pada motif Kawung Semar terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna pada ornamen

utama, merah soga untuk latar warna motif serta warna hitam sebagai kontur.

7.       Bentuk Kawung Buntal

Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk campuran dari Kawung Pecis dipadu dengan motif bunga. Motif bunga yang terdapat pada Kawung Buntal berupa bunga kenikir, sehingga bentuk dari campuran motif tersebut menjadi ciri khas pada motif Kawung Buntal. Isen motif batik pada Kawung Buntal terdiri dari bentuk bulat lonjong kecil yang terbagi menjadi dua bagian diletakkan dalam ornamen utamanya, serta bentuk belah ketupat dengan ukuran kecil, sedang, dan agak besar diletakkan pada tengah-tengah ornamen utama. Komposisi warna pada motif Kawung Buntal terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna kawung, merah soga untuk warna latar pada Kawung Buntal serta hitam sebagai warna kontur dan latar pada motif bunga kenikir.

8.      Bentuk Kawung Kembang

Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk empat bulatan lonjong dibuat

menyerupai bentuk bunga (kem-bang), sehingga motif ini dinama-kan Kawung Kembang. Ornamen utama yang terdiri dari bulatan lonjong terdapat isen motif ber-bentuk garis diletakkan pada setiap ujung bulatan kawung. Di tengah-tengah antara bulatan kawung satu dengan yang lainnya terdapat isen motif yang berbentuk deretan titik dengan arah melingkar, serta mem-bentuk lingkaran yang kecil dan empat titik yang berada di luar lingkaran tersebut. Komposisi warna pada motif Kawung Kembang terdiri dari warna putih, putih kekuningan sebagai warna orna-men utama, merah soga sebagai warna kontur dan hitam untuk warna latar pada motif Kawung Kembang.

9.      Bentuk Kawung Seling

Terdiri dari ornamen utama yang berbentuk hampir sama dengan Kawung Kembang, yaitu bentuk bulatan lonjong diselingi dengan bentuk bunga.

Tetapi ukuran serta variasi kembangnya tidak sama serta dibuat dengan perbedaan warna yang menyolok. Isen motif pada Kawung Seling terdiri dari isen titik yang dibentuk seperti garis (sawut), diletakkan pada motif kembang.

Sedangkan di dalam motif utama di beri isen dua titik pada tiap-tiap bulatan (kawung]. Komposisi warna pada Kawung Seling terdiri dari

warna putih sebagai warna pada ornamen utama, hitam sebagai warna motif bunga dan kontur, merah soga untuk warna latar pada motif Kawung Seling.