Sejarah dan perkembangan motif kawung

Posted on

Pada kelompok  ragam hias geometrik, dunia Batik mengenal motif tua (kuno) Kawung yang masuk ke dalam kriteria motif-motif Ceplok (ceplokan, keplok), dan lebih spesifik lagi masuk ke dalam motif Batik Pedalaman atau Keraton  (Based on Hinduism raditions), serta merupakan salah satu anggota Motif Larangan di samping 7 (tujuh) motif larangan lainnya seperti Parang, Parang Rusak, Cemukiran, Sawat, Udan Liris, Semen, dan Alas-alasan.  Sebagai pusat dan aktor pengembangan batik, Batik Keraton mempunyai pengaruh terhadap wilayah pembatikan lain yang kurang begitu terikat dengan pakem (ideologi raja), sehingga motif-motif larangan tadi diadopsi dan diwujudkan dalam berbagai ekspresi bentuk, pewarnaan, dan komposisi oleh masing-masing wilayah secara lebih bebas nilai, baik sebagai motif utama, penyerta, maupun sebagai motif isen. 

Makna motif  larangan pada hakekatnya merujuk  pada aspek politis, geografis, dan sosiologis sehubungan dengan keberadaan keraton Solo dan Yogya, hirarki antar keluarga istana dan rakyat biasa, serta adanya konsep kewilayahan lain seumpama pesisiran, yang tidak boleh sampai mempengaruhi secara lintas bentuk, lintas fungsi dan peruntukan  pemakaian. Kesepakatan ini terjadi antara Sultan Yogyakarta dan Solo pada abad ke 18. Pendek kata motif-motif larangan (meski secara tipe milik kedua keraton itu berbeda).

Secara etimologis, kata kawung atau kaung diambil dari nama sejenis pohon palem, atau pohon aren dan buah  aren, sebagaimana kita mengenal gula aren, gula kawung, ataupun  kolang-kaling yang berwarna putih yang tersembunyi di balik kulitnya yang keras, yang dalam kepercayaan Jawa dimaknai, bahwa itikad yang bersih itu sebagai ketetapan hati yang tidak perlu diketahui oleh orang lain. Bentuknya merupakan penampang lintang (irisan) dari buah tersebut yang memperlihatkan bentuk-bentuk oval dari ke-empat biji buahnya. Ada juga yang menghubungkan komposisi biji buahnya itu dengan 4 (empat) kelopak yang sedang mekar dari bunga lotus (teratai, atau padma) yang disimplifikasi, atau juga merupakan pengembangan dari sisik ikan. Menurut sumber lain,  kawung  juga bisa berhubungan dengan kata  kwangwung, yakni sejenis serangga yang berwarna coklat mengkilap dan indah. Sementara Rouffaer (dalam Iwan Tirta, 71) mengatakan bahwa motif kawung dapat di hubungkan dengan motif kuno lainnya yakni Gringsing, sesuai penuturan di Kitab Pararaton tentang silsilah Raja-raja Jawa Timur di abad ke 14. Motif ini terdiri atas lingkaran kecil dengan titik di dalamnya, di susun menyerupai sisik ikan atau ular yang latar belakangnya dapat diisi dengan dekorasi motif lainnya. Di dalam naskah Jawa Timur tahun 1275 tadi menyebutkan istilah gringsing bersama-sama dengan suatu figur dalam pewayangan. Motif inilah, konon lantas berkembang menjadi motif yang kita sebut sebagai kawung. Nilai kecantikan dari  kawung dapat diidentifikasi berdasarkan ukuran lingkarannya. Semakin kecil, maka semakin tua. 

Sebagaimana anggota motif ceplok yang lain, kawung-pun merefleksikan filosofi Jawa terhadap struktur semesta (kosmologi), di mana bentuk menyilang di tengahnya dianggap sebagai representasi dari pusat energi alam semesta. Sumber lain menjelaskan, baik  itu motif Kawung, Kembang Kenikir, Sekar Asem, Grageh waluh, dsb; sangat memperlihatkan cara pandang khas masyarakat agraris terhadap alam dan siklus hidupnya yang sering terungkap dalam istilah seperti mulaning dumadi (awal dan akhir semua semesta), manunggaling kawula Gusti (menyatu dengan Yang Maha Kuasa), pajupat (empat arah mata angin dan dewa-dewanya, arah meditasi dan tuahnya masing-masing), keblat papat kalimo pancer (tidak ada yang empat kalau tidak ada yang pusat), dsb. Sementara dari segi  repeating-nya, Kawung mendasarkan pengulangannya pada pada format segi empat, oval, dan bintang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s