Kakek ‘minta-minta’ VS kakek ‘barang bekas’

Posted on Updated on

Pagi ini (02/09/2012) saya melihat dua orang kakek yang mungkin sangat jauh berbeda namun jika dilihat sekilas akan terlihat sama saja “kakek-kakek” hehehe

Kakek pertama, kakek tukang ‘barang bekas’ yang sudah sangat tua, jalannya pun sudah tertatih-tatih dan bungkuk, seperti yang sudah tidak ada tenaga lagi untuk terus berjalan mendorong gerobak barang bekas, berjalanpun seperti tidak nyaman sama sekali karena kondisi sepatu yang sudah sangat usang dan tidak layak pakai kembali.

Ingin saya bertanya tapi rasanya sungkan, dan takut tersinggung. Kemana anaknya? Kenapa tidak anaknya saja yang bekerja mencari nafkah? Kenapa kakek sudah tua masih saja bekerja mendorong gerobak barang bekas? Saya saja kalau mendorong gerobak itu sepanjang hari mungkin tidak akan kuat. Tapi saya salut sama kakek ini walaupun sudah sangat tua dia tidak ‘mengemis’. Dia tetap bekerja keras selagi dia mampu.

Kakek kedua, kakek yang ‘meminta-minta’ dari rumah ke rumah dengan kondisi badan yang masih sehat dan segar, jauh lebih baik keadaannya daripada kakek pertama yang saya sudah ceritakan tadi, walaupun sama-sama sudah sangat tua. Namun dari segi pakaian dia sama saja dengan kakek pertama yang tadi. Dia memakain baju hangat yang sudah tidak layak pakai, tambalan dimana-mana dengan jahitan tangan yang tidak begitu rapi. Dengan sepatu usangnya dia berjalan mungkin sudah sangat jauh dia menjelajahi rumah demi rumah mencari belas kasihan. Sayangnya, dengan kondisi badan yang masih cukup sehat kenapa dia tidak bekerja saja daripada harus meminta-minta kepada banyak orang.

Walaupun kakek yang meminta-minta tadi dia tidak diberi uang, baik menolak secara halus, bahkan mengusirnya, dia tetap berterimakasih dan mendoakan banyak hal baik. Hanya diberi uang Rp. 1.000,- saja bahkan Rp. 500,- dia sudah sangat bersyukur dan hujan doa pun keluar dari mulut dari sang kakek.

Dari kakek kedua itu saya belajar, baik buruk yang orang lakukan, harus tetap ikhlas dan tetap berbuat baik walaupun orang tidak baik. Walaupun ya sedikit ngenes juga kalau ada yang kaya begitu, tapi ya coba bersikap lebih dewasa aja menanggapinya. Aneh juga sih aku, kakek yang di beri uang Rp. 500,- saja sangat bersyukur tapi kok saya enggak ya? Cukup apa coba uang segitu? Pasti mikirnya kesitu, walupun kebutuhan sandang pangan masih di tanggung orang tua. Tapi kakek itu sangat bersyukur sekali walaupun hanya dapat rezeki segitu, malah didoain banyak lagi. Amin ya kek doanya. Tapi coba pikir lagi deh, kakek itu juga pasti sangat banyak kebutuhan malah harus menafkahi lagi? Nahloh? Kasian kan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s